Laman

Senin, 25 Maret 2013

UPACARA NGAYUN LUCI DAERAH KAB.KERINCI


a.nama upacara dan tahap-tahapnya Nama upacara ini adalah upacar ngayun luci.ngayun artinya mengayun,sedangkan luci adalh suatu wadah atau tempat yang dibuat sedemikian rupa dan bentuknya seperti kerucut dibalik,diatasnya ditaruh burung-burungan yang terbuat dari katu dan isinya adalah buah-buahan hutan/buah-buahan rimba. Upacar ini disebut juga upacara aseak ngayun luci,karena ketika upacara berlangsung luci diayun-ayun oleh pawing atau dukun tika upacara berlangsung luci diayun-ayun aleh pawing atau dukun dimana peserta upacara yang lain menari-narikan tari aseak. Seperti telah dikemukakan dalam pembahasan upacara kumau9turun ke sawah),tari aseak ini dipakai untuk berbagai tujuan baik itu untuk keselamatan ataupun untuk memeinta kesembuhan dari suatu penyakit.oleh karena itu tari aseak ini dapat diidentifikasikan sabagai tari persembahan untuk menghadirkan roh-roh nenek moyang yang mereka percayai. Penyajian tarian ini tidak terl;epas dari kekhusukkan pawing yang mendatangkan roh dan penari aseak itu sendiri.begitu pula dalam pelaksanaan upacara ngayun luci,pawing yang dalam bahasa setempat disebut balain sale,sebagai pemimpin upacar a mendatangkan roh nenek moyang agar nenek moyang mengabulkan maksudnya yang dilakukan secara khusuk sekali. Apabila ditinjau dari segi pertahapannya,upacara ngayun luci dilaksanakan melalui beberapa tahap yaiutu; 1)tahap persiapan Tahap ini dilakukan sehari setelah penduduk diberi tahu tentang waktu pelaksanaan upaca
ra.cirinya adalah adanya kesibukan penduduk mencari atau membuat persiapan dengan mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan. 2)tahap pelaksanaan upacara yang terbagi lagi dalam dua tahap yaitu: -tahap ngayun luci -tahap tari aseak 3)tahap menengah luci artinya membawa luci ke sawah dan menanamnya di tengah sawah. b.maksud penyelenggaraan upacara upacara ngayun luci diselenggarakan dengan maksud: 1)agar padi bernih,artinya padi yang sedang bunting tersebut menjadi berisi sehingga hasilnya melimpah ruan. 2)agar padi yang telah berisi tersebut sampai tiba saatnya dipanen tidak diganggu atau dimakan burung.untuk itulah di atas setiap luci ditaruh burung-burunggan yang disebut burung asuh. 3)memohon keselamatan,keberkatan khususnya ditujukan kepada nenek moyang menunggu sawahnya,sehingga yang punya sawah maupun setelah pulang dari sawah. c.waktu penyelenggaraan upacara pada upacara ini tidak terdapat adanya sistim penanggalan untuk menentukan waktu pelaksanaan upacara.penentuan waktu disini hanyalah berdasarkan kesepakatan antara penduduk dengan ninik mamak,pawing dan pemangku adat. Perlu dikemukakan disini bahwa pelaksanaan dari upacara ini selalu diadakan pada malam hari yaitu bada sembahyang isya.sedangkan lamanya kira-kira 3 (tiga) jam,sehingga apabila dimulai jam 08.00 maka upacara akan berakhir pada jam 11.00. Penentuan waktu disini tidak mempunyai latar belakang cultural masyarakat kelompok pendukung tradisi tersebut,melainkan ditentukan atas dasar kondisi alamiah yaitu keadaan padi yang sedang bunting atau mulai berisi,dengan suatu kepercayaan bahwa padi tersebut harus dilindungi dengan jalan memohon agar burung asuh senantiasa mengasuh padi ini sampai siap dituai. Pelaksanaan upacara biasanya dilakukan pada malam jum’at,yaitu malam yang masih dikeramatkan oleh penduduk yang menganggap bahwa pada malam itulah roh-roh nenek moyang berada di sekeliling rumah,sehingga akan memudahkan dalam melakukan kontak komunikasi. Tetapi walaupun demikian,penggunaan waktu tersebut bukanlah merupakan suatu keharusan.dengan kata lain tidak ada sanksi apapun bila upacara ini dilaksanakan pada malam lain dari malam jum’at,sehingga waktu yang ditentukan lebih cenderung dan tergantung pada situasi dan kondisi. d.tempat penyelenggaraan upacara seperti halnya dalam penentuan waktu,penentuan tempat penyelengaraan upacarapun tidak mempunyai ketentuan khusus yang berlatar belakang cultural.tempat yang digunakan boleh di mana saja,asalkan mempunyai ruang yang luas dan disepakati oleh seluruh penduduk. Gagasan demikian memang logis,karena melihat arus pengunjung atau peserta upacara yang banyak,ditambah harus disusunnya perlengkapan upacara yang sudah barang tentu memerlukan tempat maka tempat upacara harus luas. Ketika peneliti menanyakan,apakah upacara ini dapat dilaksanakan di ruang terbuka,misalnya dilapangan ataupekarangan rumah,hal ini dijawab oleh responden nursyamsu(42 tahun)kepala sd nomor 126/III siulak panjang I kecamatan Gunung kerinci bahwa hal demikian belum pernah terjadi.penyelenggara upacara aseak ngayun luci ini sepengetahuannya dan menurut cerita ayah/ibu dan kakek/neneknya,selalu dilaksanakan dirumah atau dalam ruangan. Memang dalam hal ini,peneliti tidak menemukan jawaban yang pasti tentang alas an mengapa upacara ini selalu diadakan di suatu rumah,sehingga tempat pelaksanaan upacara ini nampaknya hanya dilandasi oleh tradisi belaka. Tempat upacara ini sering digunakan dirumah balian sale atau pawing,tetapi kadang-kadang di rumah lain.rumah-rumah dilokasi penelitian tidak berbeda dengan rumah orang jambi pada umumnya yaiut dibuat dengan ukuran besar,kamarnya sedikit,ruang depan luas dan bentuknya panggung.dengan demikian maka masalah tempat untuk penyelenggaraan upacara ini tidak menjadi masalah tempat untuk penyelenggaraan upacara ini tidak menjadi maslah,sebab banyak dan hamper seluruhnya dapat digunakan untuk upacara ini.ruang depan yang luas dapat menampung peserta inti upacara dan dibawah rumah(rumah panggung disini rata-rata mempunyai jarak lantai ke tanah lebih kurang dua meter),dapat pula di gunakan dengan menghampur peserta upacara yang lain yang tidak tertampung di dalam rumah. e.penyelenggara teknis upacara upacara dipimpin oleh seorang atau beberapa orang balian sale atau pawing yaitu orang yang dianggap mempunyai ilmu kebathinan yang cukup,sehingga mampu berkomunikasi dengan alam gaib.karena kemampuannya ini pawing mempunyai status social yang tinggi,dia dituakan dan didahulukan dalam segala hal sehingga derajatnya apabila dilihat dari segi tempat duduk dalam suatu acara adat disamakan atau disejajarkan dengan pemangku adat dan kepala desa atau pemimpin formal. Mengapa demikian!tentu ada latar belakang kulturnya,yaitu dilihat dari segi prosesnya secara singkat dapat disebutkan disini bahwa pawing itu sendiri adalah”BAKO”atau keturunan dari leluhur yang diagungkan penduduk.prosesnya demikian pada waktu sedang dilangsungkan”ASEAK MERCOK”,pada saat”BATONGEAH”misalnya terdapat penari aseak yang kesurupan artinya dia berbuat,menari tanpa sadar diri.ini berarti tingkah laku orang tersebut seakan-akan dikendalikan oleh roh nenek moyang yang masuk kedalam jiwanya,sehingga orang tersebut walau berjalan diatas bara api,diatas pecahan kaca/gelas,di atas duri yang tajam atau diatas keris sekalipun telapak kakinya tidak terluka sedikitpun. Tanda-tanda inilah yang menjadikan dia menganggap sebagai pawing baru.pawang yang lain dan masyarakat yang mengerti dapat mengidentifikasikan keturunan siapa orang tersebut yaitu dari tingkah lakunya dalam menari,apakah berpencak silat atau mengaum,sehingga mereka tahu bahwa pawing baru tersebut apakah keturunan hulu baling atau keturunan raja. Jadi pawing disini adalah orang yang ditunjuk dan dipercaya oleh roh leluhur mereka,sehingga wajar apabila kedudukan pawing ini berstatus social tinggi. Disamping pawing tedapat pula pemangku adat yang berfungsi sebagai pemimpin adat.seperti halnya pawing,pemangku adatpun termasuk orang yang dituakan dan didahulukan dalam segala hal,karena pemangku adat ini pun masih mempunyai darah keturunan leluhur yang dihormati. Orang yang ditunjuk atau diangkat sebagai pemangku adat pada prinsipnya berdasarkan atas garis keturunan dari pihak ibu,karena sistim kekerabatan orang kerinci menganut sistim matrilineal. Penggantian pemangku adat terjadi apabila: 1)pemangku adat yang lama meninggal dunia atau istilah setempat”mati di bawah bangkai” 2)ganti bersilih,artinya pemangku adat tersebut tidak dapat lagi menunaikan tugasnya baik disebabkan oleh keadaan jasmaninya yang tidak memenuhi syarat lagi,misalnya buta,tuli atau sakit berat yang berkepanjangan,maupun disebabkan oleh keadaan rohani yang tidak lagi memungkinkan tugasnya,misalnya kurang waras atau gila 3)pergi merantau tidak pulang-pulang Penyelenggara teknis upacara selanjutnya adalah masyarakat itu sendiri,terutama disini adalah masyarakat yang berkepentingan dengan upacara aseak ngayun luci.peranan masyarakat disini disamping menyiapkan perlengkapan upacara termasuk sajiannya,juga bertindak sebagai penari aseak pada saat upacara tengah berlangsung. f.pihak-pihak yang terlibat dalam upacara selain dari penyelenggaraan teknis upacara terdapat pula piha-pihak lain yan gterlibat dalam upacara,walaupun fungsinya hanya sebagai saksi upacara. Pihak-pihak tersebut antara lain: 1).pemimpin formal desa yang terdiri dari kepala desa dan perangkat desa lainnya,baik yang berasal dari desa lainnya,baik yang berasal dari desa di mana upacara dilaksanakan maupun dari desa tetangga. 2).pemangku adat dan pawing desa lain yang sengaja di undang. 3).masyarakat desa tetangga yang hadir secara spontan. Kehadiran mereka dalam upacara sebenarnya merupakan suatu bentuk pengejewantahan dari rasa solidaritas sesame,yang terbentuk oleh tatan sistim keyakinan masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.mereka sudah terbiasa dengan prinsip samarata-samarasa,senasib sepenanggungan,ringan sama dijinjing berat sama dipikul atau dengan kata lain bergotong-royong. g.persiapan dan perlengkapan upacara pelaksanaan upacara dimulai dengan kegiatan persiapan yang berupa pengadaan perlengkapan upacara.perlengkapan upacara ini ada yang disiapkan oleh pawing dan ada pula yang diusahakan oleh penduduk. Yang diusahakan oleh pawing adalah: 1).sekebat laho,yaitu satu ikat daun-daunan dan rumput-rumput yang terdiri dari: -laho sepenuh -laho sijena -laho isi -laho tempurung -laho sicucu/serupa keladi -laho kayu pasak -peladang(rumput)hitam -peladang(rumput)hitam -peladang angit -akar lempenang sebagai pengikat laho 2).bunga-bungaan,bunga disini tidak ditentukan jenisnya namun asal harum baunya 3).bakul sebanyak dua buah,yang pertama berisi beras satu cupak(1,5 canting),dan yang kedua berisi beras satu gantang(4Kg). Diatas beras tadi ditaruh masing-masing: -sirih pinang 7 helai -benang puluh,yaitu benang yang dibuat bulatan,dengan melilitkan sebanyak sepulah lilitan -cincin anyir masing-masing 5 buah -kapas sebagai alas cincin -kuncur 4).tali atau tambang untuk menggantung lucid an kain panjang sebagai penutup gantungan luci. Sedangkan yang diusahakan oleh masing-masing penduduk terdiri dari: 1).buah-buahan rimba yang diambil dari hutan.\ 2).luci yaitu wadah yang terbuat dari buluh kuning yang dibuat seperti kerucut yang dibalik,dan fungsinya untuk wadah buah-buahan rimba. 3).tiang luci yang terbuat dari buluh kuning. 4).burung-burungan yang melambangkan burung asuh,terbuat dari kayu. 5).makanan yang terdiri dari: -lemang -juadah/dodol -pisang -air the atau kopi h.jalannya upacara menurut tahap-tahapnya Tahap persiapan Seperti telah dikemukakan di muka,pelaksanaan upacara dimulai dengan tahap persiapan.tahap ini meliputi kegiatan menyiapkan perlengkapan untuk kepentingan upacara.banyak bahan yang diperlukan dalam upacara ini,oleh karena itu bias jadi tahap ini memerlukan waktu juga. Upacara aseak ngayun luci merupakan salah satu identitas masyarakat desa ini,karena hanya disinilah upacara ini dapat dijumpai. Untuk desa yang lain seperti desa koto bento misalnya,untuk melangsungkan upacara dengan maksud yang sama hanya dengan menanam ppuh,sama seperti pupuh yang digunakan pada upacara kumau. Pupuh tersebut terbuat dari daun-daunan dan rumput-rumput yang terdiri dari daun mayang isi,buah mayang isi,rumput rantai dan rumput siah panjang,dibungkus dengan terak nio(upih) dan diikat dengan akar lempenang.pupuh ini ditanam ditengah sawah,tetapi tidak diawali dengan upacara yang sifatnya seremonial,melainkan hanya dibaca mantra yang sama seperti ketika memasang pupuh/menengah dara dalam upacara kumau yaitu:”ini pupuh pengikat,pupuh pengenang,mengenang bereh padei,anak pinak itik dan angsa,kerbau dan jawi,masuk boleh keluar indak boleh”. Kepada upacara aseak ngayun luci,tahap persiapan pada dilakukan setelah adanya kesepakatan mengenai waktu dan tempat untuk menyelenggarakan upacara.penduduk diberitahu,dan mulai saat itu pula mereka memulai mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan. Jenis perlengkapan upacara sama dengan jenis perlengkapan yang digunakan untuk melangsungkan upacara pada masa silam,artinya perlengkapan tersebut berlaku secara turun temurun dari nenek moyangnya dahulu.hal demikian dikarenakan setiap jenis perlengkapan mempunyai mythos tertentu,walaupun tidak lengkap diketahui oleh generasi saat ini. Mythos yang masih dapat direkam peneliti antara lain jenis laho atau daun yang digunakan.konon kabarnya pada jaman dahulu terjadi kebakaran kampong,api berkobar merembet dari satu rumah ke rumah lain,sehingga seolah-olah kampong betul-betul dibumi hanguskan.pada saat api membakar bilik atau lumbung padi,banyak padi yang terhempas angin dan berterbangan bersama dengan asap kea rah hutan yang ada disekelilingnya. Kampung hancur menjadi abu sehingga penduduk terpaksa mengungsi dan berlindung di hutan.untuk mempertahankan hidupnya,penduduk mencari makanan seadanya yang ada di hutan,karena bekal hidup mereka habis dimakan api.pada saat mereka merambah hutan,tiba-tiba salah seorang pemangku adat menemukan padi yang menempel di atas daun/laho sepenuh,laho sijena,laho isi,laho tempurung,laho sicucu,laho kayu pasak,mengumpul pada satu tempat. Bertepatan dengan itu,penduduk lain menemukan lagi beberapa butir padi yang seakan berlindung di bawah rumput yang disebut rumput peladang hitam dan peladang angit.mulai sejak itulah daun/laho dan rumput tersebut digunakan sebagai salah satu syarat atau salah satu perlengkapan upacara yang ada kaitannya dengan kesuburan dan keselamatan padi yang ditanam,laho dan rumput itulah yang sebenarnya telah menyelamatkan padi. Begitu pula tentang buah0buahan rimba yang dimasukkan ke dalam luci,digunakan sebagai perlengkapan upacara karena mempunyai cerita lama.padi ditemukan menempel diatas daun-daunan dan dibawah rumput,yang keduanya berada dibawah pohon rimba yang lebat buahnya.dengan demikian menurut kepercayaan mereka saat itu,bahwa pohon yang berbuah lebat tersebut dianggap sebagai pelindung padi.untuk itulah bauh-buahan rimba dipakai sebagaiu perlengkapan upacara,karena telah berjasa melindungi atau mengayomi padi,sehingga sampai sekarang masih dipergunakan untuk mengambil hikmahnya agar padi dapat terlindung adanya. Menjelang tiga hari pelaksanaan upacara,penduduk seluruhnya diberitahu dan sejak itulah sebenarnya persiapan upacara dimulai.banyak kegiatan yang dilakuakn terutama masing-masing penduduk berusaha menyiapkan segala keperluan.kaum ibu menyiapkan bahan makanan seperti lemang,pisang dan sebagainya,begitu pula kaum pria umumnya pergi berangkat menuju hutan guna mencari buah-buahan rimba. Perlu dikemukan disini,buah-buahan rimba ini bukan hanya satu jenis saja,tetapi banyak dan kesemuanya itu tidak ada yang dapat dimakan.walau jenisnya banyak,buah-buahan tersebut tidak ada ketentuan tentang berapa banyak jenisnya tetapi boleh lima jenis,tujuh jenis atau sepuluh jenis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar